Kamis, 03 November 2016

cerpen posmodern



Cerpen
MEMEDI THEK-THEKAN
Oleh Ela Mika Sari (1412011056)

Suara itu terdengar lagi saat sore menjelang malam hari. Suara itu terdengar aneh. Keriuhan angin yang mengibas-ngibaskan daun pepohonan seakan-akan menari-nari seperti penari jaipong yang sangat gemulai. Terutama sogerombolan pohon bambu di ujung jalan yang telah siap mengeluarkan suara aneh, entah apa itu. Mereka tahu betul kapan mengeluarkan suara yang dapat membuat bulu kuduk naik-turun dan jantung empot-empotan. Banyak warga yang enggan melewati jalan itu dikarenakan takut dan beberapa warga lagi memiliki alasan tersendiri.
Warga yang mendapat giliran untuk berjaga pada malam hari memiliki cerita mistis sendiri-sendiri sesuai versi mereka. Ada yang memang benar adanya namun ada pula yang menambahkan bumbu rempah-rempah agar lebih terasa kuat aura mistisnya. Soal percaya dan kepercayaan mereka juga bebas memilih.
Sepulang mengaji dari musholla, beberapa anak warga yang melewati segerombolan pohon bambu yang menari-nari mengikuti alunan angin kesana kemari seperti mendengar suara anak kecil yang sedang asyik bermain dan berbicara sendiri. Ada juga yang mendengar suara thek-thek-thek dari dalam gerombolan bambu itu.
Anak itu sangat suka mengganggu anak-anak warga yang sedang bermain atau pulang mengaji. Ketika anak-anak sedang bermain di siang hari anak misterius itu sering melempari mereka dengan biji buah-buahan atau batu-batu kecil hingga membuat anak-anak yang sedang bermain berlari ketakutan.
Seringkali juga warga dikejutkan dengan sosok anak kecil yang menyeramkan. Tubuhnya kurus, hitam, dekil dan berambut keribo. Anak ini senang sekali meringis, memperlihatkan giginya yang kuning dan tidak beraturan. Tetapi, ia hanya muncul dari kejauhan dan tidak pernah mau mendekat ke warga. Beberapa warga yang penasaran selalu mengejar anak ini, tetapi ia selalu menghilang dalam semak-semak menuju gerombolan pohon bambu.
Siapakah anak itu ??? Tidak ada yang tahu. Kemisteriusan anak kecil itu terus berlanjut hingga membuat keriuhan warga yang semakin menjadi-jadi. Banyak warga yang mencoba menyelidiki dan mencari tahu siapa sebenarnya anak itu. Namun, tak ada yang tahu, semakin diselidiki semakin anak itu menyembunyikan diri dan tak mau keluar dari dalam gerombolan pohon bambu. Semakin Ia tak mau keluar semakin mistis aura di sekitar gerombolan pohon bambu itu.
Keriuhan warga ditambah lagi dengan hilangnya ternak mereka. Beberapa hari yang lalu seorang warga sempat kehilangan beberapa ekor ayam. Seorang warga yang hendak pergi ke sawah pernah menemukan bulu-bulu ayam yang bertebaran di pinggir jalan. Ada juga yang menemukan bangkai ayam yang sudah terkoyak oleh ganasnya gigitan taring. Anehnya, ayam-ayam yang hilang itu ditemukan dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa dan bangkainya dibuang begitu saja di pinggir jalan dekat pohon bambu.
Mentari yang biasanya disambut dengan kokokan ayam dan kicauan burung pemakan padi, kini berubah menjadi keributan yang tidak dapat di hentikan. Pak RT yang biasanya hanya mendapat laporan dari warganya dan memilih tidak mempercayainya kini seperti ditampar oleh ketidakpercayaannya sendiri. Bagaimana tidak ? Kambing kesayangannya, yang akan ia jual untuk modal sunatan anaknya bulan depan kini raib. Hilang bak ditelan bumi
Pak RT yang tak kehabisan akal, menyuruh beberapa warganya utuk mencari kambingnya yang hilang. Setelah ditelusuri di beberapa gang dan semak-semak, akhirnya kambing Pak RT ditemukan. Tidak jauh berbeda nasib Pak RT dengan warganya yang sempat kehilangan ternaknya. Pak RT juga menemukan kambingnya sudah menjadi bangkai bahkan sudah berbau karena hilangnya sudah dari beberapa hari yang lalu.
Amarah Pak RT dan warga yang ternaknya hilang sudah memuncak hingga tak terbendung lagi. Kesabaran Pak RT yang dulu menggunung kini meleleh. Pak RT dengan dibantu warganya yang pernah kehilangan ternaknya, mencoba menelusuri dan mencari tahu yang sebenarnya. Setelah beberapa hari mencari tahu, kambing Pak RT ditemukan sudah menjadi bangkai. Bangkai kambing Pak RT ditemukan tepat di depan gerombolan bambu di ujung jalan. Pikiran warga yang ikut mencari langsung tertuju pada anak kecil yang berada di dalam gerombolan bambu itu.
“Jangan-jangan ini semua ulah anak kecil itu ?” Kata seorang warga yang ikut mencari.
“Ya, bisa jadi.” Teriak warga yang lain dengan nada gusar.
“Tapi mengapa anak kecil itu mencuri ternak warga dan membunuhnya seperti ini ?” Tanya Pak RT menenangkan amarah warga, dirinya dan mencoba berpikir jernih.
“Terus ini ulah siapa lagi kalau bukan dia, bukti pun sudah ada kita tidak bisa tinggal diam.” Sahut warga yang lain.
Amarah warga sudah benar-benar tidak tertahankan. Akhirnya Pak RT membuat sebuah sayembara.
“Barang siapa yang bisa menangkap anak itu hidup-hidup dan membawanya kemari, maka akan aku beri sebuah kursi empuk.” Janji Pak RT kepada warganya.
Dengan penuh semangat warga sangat antusias mengikuti sayembara yang dibuat Pak RT. Mereka berharap mendapatkan kursi empuk yang telah dijanjikan Pak RT. Namun, anak misterius itu seperti memiliki kekuatan ajaib yang dapat menghilang dan tak terlihat. Entah ia bersembunyi di atas langit, di bawah tanah atau bahkan dia bersembunyi di dalam pohon bambu. Yang jelas, warga masih tak ada yang berani mendekat atau bahkan melintasi gerombolan bambu itu.
Sudah berminggu-minggu warga mencoba mencari kesana kemari di setiap pelosok, tetapi tak ditemukan sosok anak kecil itu. Pernah sekali sebuah keluarga mendengar suara thek-thek-thek yang mengitari rumahnya. Suara itu terdengar ketika sore menjelang malam hari. Tak berani mereka keluar untuk melihatnya. Suara itu mengitari rumahnya sekitar tiga kali. Merinding dan keringat dingin yang mereka rasakan.
“Pak tahu tidak semalam saya mendengar suara aneh.” Laporan seorang warga kepada Pak RT
“Hahh, suara apa yang kamu dengar ?” Tanya Pak RT dengan nada yang serius.
“Tidak terlalu jelas Pak, yang hanya saya dengar seperti suara bambu yang dipukul dengan tidak semangat.” Ujar warga
“Iya, suara seperti apa itu?”
“Suaranya terdengar seperti thek-thek-thek….”
“Waduhh jangan-jangan anak itu sudah mulai berani masuk ke lingkungan masyarakat dan akan mencuri ternak lagi.” Balas seorang warga yang ikut berkumpul.
“Atau jangan-jangan ia sudah tak doyan dengan ternak lagi, tetapi ia ingin yang lebih, seperti mencuri perabotan rumah yang terbilang mahal dan memiliki nilai jual.” Timpal warga.
“Apakah ternak Bapak ada yang hilang ???” tanya Pak RT
“Tidak ada Pak, saya sudah mengecek semuanya dan tidak ada yang hilang” Jawab Warga
“Siapa sebenarnya anak itu dan kemana perginya ?” Pertanyaan ini masih berputar-putar di kepala Pak RT dan warga sejak ternak-ternak mereka hilang. Sayembara yang diadakan Pak RT seperti tidak memiliki arti. Antara warga yang takut terhadap anak kecil itu atau mereka tidak bisa menemukannya.
Pasalnya akhir-akhir ini, warga tak pernah kehilangan ternak mereka lagi. Tetapi mereka salalu mendengar suara thek-thek-thek yang mengelilingi rumah mereka. Banyak warga yang ketakutan. Ternyata tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak kecil, mereka selalu menangis ketika mendengar suara itu.
Para orang tua yang yang memiliki keberanian tambahan, memilih keluar. Sambil komat-kamit tidak jelas mereka melemparkan garam yang berada di genggamannnya. Berharap suara itu tidak mengganggu mereka dan tidak datang lagi, karena semakin malam semakin mencekam suasananya. Kepercayaan ini mereka dapatkan dari nenek moyang mereka terdahulu untuk mengusir memedi atau segala macam bentuk roh halus yang suka mengganggu anak kecil.
Warga yang rumahnya dekat dengan gerombolan bambu itu merasa resah sekali. Karena ia lebih sering mendengar suara aneh itu. Anaknya yang masih terbilang kecil pun selalu menangis ketika mendengar suara itu. Tetapi orang tuanya memilih untuk tidak keluar karena takut. Tiba-tiba anaknya tergeletak dengan mata yang melotot hingga tak terlihat hitamnya. Sambil menggigit gerahammnya dan mengepalkan tangannya serta meronta-ronta ingin keluar rumah. Pak Karmin tak berani melakukan apa-apa dan hanya bisa menenangkan anaknya.
Esok menjelang pagi anaknya sudah tak dapat berbicara lagi, ia hanya bisa terdiam dan melihat orang dengan tatapan kosong seakan tak mengenali orang yang dilihatnya bahkan orang tuanya sendiri. Sontak Pak Karmin bingung dan kaget luar biasa. Ia tak tahu harus berbuat apa dan hanya dapat melapor kepada pak RT.
Ketika sang surya belum sempat menampakkan sinarnya, Pak Karmin sudah membelah kabut dan menerobos dinginnya pagi hingga membuat bibirnya kering dan matanya memerah. Ia menuju rumah Pak RT untuk melaporkan kejadian yang telah menimpa keluarganya. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke rumah Pak RT, yang rumahnya terbilang jauh. Dengan langkah cepat ia menuju rumah Pak RT.
“Tok tok tok, permisii, Pak RT tok tok tok.” Dengan suara sedikit terengah-engah.
“Siapa dan ada apa ?”
“Saya Karmin Pakk. Anak saya Pak, tolong anak saya.” Suara Pak Karmin menjadi sedih dan takut.
“Kenapa anak Bapak ?”
“Anak saya sakit Pak, tetapi sakitnya aneh. Ia tak mau bicara bahkan tak mngenali saya dan istri saya. Pak tolong kami, Pak.”
“Ya Pak, saya akan menolong sebisa saya. Boleh saya melihat keadaan anak Bapak ?
“Mari Pak…”
Dengan berjalan setengah lari mereka sampai di rumah Pak Karmin dan Pak RT melihat keadaan anaknya. Pak RT bingung  apa yang harus ia lakukan untuk menolong anak ini dan warga yang lain agar tidak terjadi hal-hal aneh lagi.
“Mungkin ini ulah memedi thek-thekan.” Seru seorang warga yang ikut menjenguk anak pak Karmin.
“Iya bisa jadi. Apa yang harus kita lakukan Pak RT ? Bagaimana kalau kita menghacurkan pohon bambu yang berada di ujung jalan itu, agar anak kecil itu tidak berani mengganggu warga lag.” Usul warga yang lain.
“Iya Pak RT, saya setuju dengan usulan itu.” Tambah beberapa warga menguatkan.
“Baiklah, nanti sore kita berkumpul di rumah saya untuk bermusyawah mengenai ini.” Jawab Pak RT
Setelah beberapa jam bermusyawarah, akhirnya mereka mendapat keputusan dan keputusan yang mereka dapat adalah merusak dan membakar pohon bambu yang berada di ujung jalan itu.
Dengan kekesalan dan amarah warga yang sejak lama mereka pendam. Mereka membabat habis bambu itu, dan terlihat jelas si jago merah berkibar-kibar dan melahap semuanya. Kini habis sudah pohon bambu itu dan tak ada yang tersisa sedikitpun. Para warga merasa puas, seperti dendam yang sudah terbalaskan dengan tuntas. Kini malam-malam yang mereka lalui terasa lebih tenang dan tak memiliki perasaan takut lagi. Sudah tak ada suara aneh yang terdengar lagi. Anak Pak Karmin pun perlahan membaik. Berminggu-minggu suasana desa terlihat lebih aman dan tenang dari sebelummnya, para warga juga terlihat tidak terlalu khawatir.
Mungkin kalimat “karma masih berlaku” itu benar-benar ada. Padahal belum lama para warga merasa aman dan nyaman kini sudah digegerkan lagi dengan hal mistis. Para warga bertemu dengan sosok anak kecil yang tinggal di gerombolan bambu itu. Kulit anak kecil itu meleleh dan mengelupas. Wajahnya tak terlihat jelas seperti wajah manusia pada umumnya. Saat bertemu warga, anak itu meminta tolong untuk mematikan apinya. Sambil mengangis, menjerit kepanasan ia meminta tolong. Anak itu mendatangi para warga satu persatu dalam mimpinya. Entah apa yang dimau dari anak kecil ini.
Para warga yang dihantui dalam mimpinya merasa resah dan ketakutan akibat perbuatan mereka sendiri. Bahkan Pak RT pun bermimpi hal yang sama dengan warga. Kini mereka memiliki siasat yaitu lebih memilih tidak tidur dan meronda bersama-sama. Pak RT menyetujuinya. Para warga yang meronda berkeliling desa bersama-sama agar ketakutan mereka sedikit berkurang. Setelah berkeliling beberapa jam para warga melihat ada darah yang berceceran. Mereka mengikuti kemana arah darah itu berujung. Darah itu terhenti di balik semak-semak di ujung jalan dekat gerombolan bambu yang dulu pernah rusak dan bakar. Bulu kuduk warga yang melihat sontak berdiri, karena di balik semak-semak itu mereka melihat ada sosok hitam dan besar.
Sosok itu sedang menikmati seekor ayam yang entah dari mana ia dapatkan. Ketika mendengar suara ribut-ribut warga yang berda tepat di baliknya, sosok itu tiba-tiba berbalik dan hampir menerkam warga yang paling dekat dengannya. Namun, gerakan warga yang lebih cepat mampu mengusir makhluk itu dengan cara menyodor-nyodorkan obor yang mereka bawa. Saat obor itu menerangi wajah makhluk itu ia merasa kesakitan dan kepanasan, lalu pergi masuk ke hutan.
Makhluk yang warga temui tadi adalah seekor srigala yang sangat besar. Ternyata selama ini hewan ternak mereka yang hilang bukanlah di curi oleh anak kecil itu melainkan ada srigala dari hutang yang masuk ke pemukiman warga. Lalu siapa dan kemana anak kecil itu?
Pada malam-malam berikutnya, warga masih meronda bersama-sama. Beristirahat dan minum kopi di pos ronda. Saat sedang asyik beristirahat di pos ronda mereka mendengar suara anek itu lagi. Thek-thek-thek. Semakin lama suara itu semakin mendekat dan terdengar jelas. Warga yang berada di pos ronda sangat ketakutan dan memilih bersembunyi di dalam pos serta tak mengeluarkan suara apapun.
Thek-thek-thek-thek-thek suara itu semakin jelas, semakin dekat suara itu terdengar pula hentakan kaki, entah siapa itu. Hentakan kaki itu perlahan namun pasti, pasti mendekat. Salah satu warga yang bersembunyi di dalam pos mengintip pada lubang kecil. Mengapa ia menggunakan pakaian berwarna hijau, sepatu dan bahkan topi. Warga yang tak tahan dengan semua ini dan penasaran memilih keluar dari pos dan dilihatnya seorang hansip baru dari desa sebelah yang memang sering berkeliling di desa ini.

esai sosiologi sastra



Esai Sosiologi Sastra
Nilai-Nilai Kehidupan dalam Rantau 1 Muara
Oleh Ela Mika Sari (1412011056)

Novel Rantau 1 Muara karya A. Fuadi ini bercerita mengenai cinta dan perjuangan. Tepatnya cinta dan perjuangan yang didasari oleh nilai-nilai islami. Lika-liku kehidupan dalam rantauan serta pemaknaan terhadap tujuan hidup yang digoreskan lewat sosok Alif dengan sangat indah dalam Rantau 1 Muara yang akhirnya menemukan minat, belahan jiwa dan makna hidup. Itu semua didapatkannya melalui perjuangan yang tidak mudah juga.
Fenomena-fenomena atau masalah yang terjadi dalam novel ini memiliki persamaan dan ada di masyarakat pada umumnya seperti nilai religius, kerja keras dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini dapat dilihat dari beberapa kutipan. Misalnya, nilai kerja keras yang terdapat dalam novel juga dapat dijadikan atau pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, nilai kerja keras terdapat pada beberapa kutipan di bawah ini.

Tentulah aku beruntung. Seandainya dia tahu dan merasakan bagaimana aku mengorbankan kenikmatan-kenikmatan sesaat untuk sampai “beruntung”. Berapa ratus malam sepi yang aku habiskan sampai dini hari untuk mengasah kemampuanku belajar, membaca, menulis, dan berlatih tanpa henti. Melebihkan usaha di atas rata-rata orang lain untuk agar aku bisa mengangkat harkat diriku. (hal. 8)


“Jangan gampang terbuai dengan keamanan dan kemapanan. Hidup itu kadang perlu beradu, bergejolak, bergesekan. Dari gesekan dan kesulitanlah, sebuah pribadi akan terbentuk matang. Banyak profesi di luar sana, usahakanlah untuk memilih yang paling mendewasakan dan paling bermanfaat buat sesama. Lalu kalau kalian nanti sudah bekerja, jangan puas jadi pegawai selamanya, tapi punyailah pegawai.” (hal. 12)


Konsentrasi yang diperlihatkan Randai sebentar lagi akan mengantarkan dia mencapai impian kami berdua dulu, yaitu belajar membuat pesawat sampai ke Jerman, tempat Habibie bersekolah. (hal. 29)


Malah, ketika newsroom semakin senyap semakin bergolak semangatku. Ketika malam semakin gelap, semakin menyala tekadku. Aku tahu jika aku terus berjuang dalam sunyi, aku menuju ke tempat yang tidak semua orang akan sampai. Ketempat orang-orang terpilih saja. Orang-orang yang kerap dianggap aneh oleh orang kebanyakan. Tuhan ini Maha Melihat siapa yang paling bekerja keras. Dan Dia adalah sebaik-baiknya penilai. Tidak akan pernah Dia menyia-nyiakan usaha manusia. Aku percaya setiap usaha akan dibalas-Nya dengan balasan sebaik-baiknya.”  (hal. 154)


Kutipan-kutipan di atas menunjukkan bahwa siapa yang melebihi jam kerja orang kebanyakan, maka ia akan mendapatkan ganjaran atau hasil di atas orang kebnyakan pula. Seperti pepatah Arab yang mengatakan bahwa: Man Thalabal ula sahirul layali. Siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan, bekerjalah sampai jauh malam. Tidak hanya itu dalam novel ini juga mengangkat sebuah “mantra” yang menjadi motivasi bagi tokoh yaitu “Man saara ala darbi washala” yang artinya siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai di tujuan.
Dalam hal kerja keras kita juga dituntut untuk konsisten dalam satu bidang tertentu. Agar lebih fokus dalam berusahan untuk mencapainya. Untuk lebih membakar semangat, agar kerja keras yang telah dilakukan tidak sia-sia kita juga membutuhkan persaingan. Persaingan yang panas tapi sehat. Seperti ayat dalam Al-Quran yang berbunyi “Fastabiqul khairat” yang artinya berlomba-lomba menuju kebaikan (QS: Al-Baqarah:148). Selain kerja keras dalam novel ini juga mengandung banyak nilai-nilai religius.

Jangan-jangan ini adalah jalurku yang selama ini tidak kusadarai. Jangan-jangan ini misiku. Caraku mengabdi dan menjadi khalifah dimuka bumi. Aku bisa menjadi, penulis buku, atau bahkan wartawan. (hal. 30)


Selesai mengatupkan kedua tanganku diwajah sebagai penutup doa, aku ambil Alquran kecilku di rak musholla. Hari Kamis malam Jumat biasanya jadwalku membaca Yasin. Aku niatkan mengirimi kebaikan bacaan mulia ini untuk Almarhum Ayah dan keluargaku yang yang telah mendahului kami. (hal. 149)


Sejak alam ini terkembang, malam-malam sepi telah menjadi saksi orang-orang besar dalam sejarah. Malam yang hening, kadang menjadi waktu lahirnya karya-karya besar. Ada kekuatan ajaib di dalam kerja keras dan perenungan di tengah kesenyapan malam. Ada kemesraan yang personal dengan Zat Yang Kusus dalam sepi. Ada keberkahan di saat-saat sepertiga malam. (hal. 154)


“Kalau di pesantren kami diajarkan nasihat Nabi yang bilang: khairunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Nah bermanfaat kan bisa pakai apa saja yang kita punya. Bahkan tersenyum saja sudah manfaat untuk menyenangkan hati orang yang melihatnya. Manusia yang bermanfaat adalah manusia terbaik. The most successful person.” Jawabku. (hal. 161)


Bukannya berjalan menuju musolla kecil buat mahasiswa di Student Center, dia malah mengajakku berjalan terus kearah sebuah gereja tua di ujung kampus. (hal. 209)

            Novel ini memang sangat kental dengan keislaman yang banyak mengangkat pepatah dari Arab, hadits, bahkan Al-Quran. Menjadi Khalifah di muka bumi memang sudah menjadi tugas umat manusia yang telah disampaikan Allah dalam Al-Quran untuk senantiasa berbakti kepada Allah SWT, dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi lanrangan-Nya serta selalu berkeinginan untuk meraih kehidupan yang lebih maju dengan cara yang baik dan benar. Bermanfaat bagi orang lain juga menjadi tugas seorang khalifah di muka bumi ini.
            Dalam novel ini juga terdapat adanya nilai toleransi. Ketika Alif berada di Amerika, ia dan teman-teman muslim lainnya yang berasal dari berbagai Negara melakukan solat Jumat di sebuah gereja. Seorang Pastor penjaga gereja memperbolehkan umat muslim di sana menggunakan gereja untuk solat jumat, karena umat muslim di kampus itu tidak mendapat tanah yang cukup lapang. Sungguh toleransi yang sangat luar biasa dan patut ditiru. Cinta tanah air yang terdapat dalam novel, diperankan oleh tokoh Alif dan beberapa temannya dari pondok madani dulu yang kebetulan juga sedang merantau di negeri orang memiliki pelajaran tersendiri. Dalam hal ini nilai cinta tanah air terdapat di beberapa kutipan dalam novel.

“Rumah adalah tempat dimana kita dekat dengan keluarga. Di Tanah Air”. (hal. 361)


“Ambo merasa telah banyak belajar dari melihat negeri orang. Seperti kata pepatah Minang, jauah bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak diraso, jauh berjalan jadi banyak yang dilihat, lama hidup banyak dirasa. Ada masanya menetap di tempat asal. Kami mau member tahu kalau kami akan pulang for good setelah Lebaran. Selamanya”. (hal. 363)


Raja saling berpandangan dengan istrinya, lalu dengan muka cerah menjawab, “Ruju ala dawam. Pulang kampunglah aku.”  (hal. 347)
“Negaraku surgaku, bila tiba waktunya kita wajib pulang mengamalkan ilmu di Indonesia,” balas Atang. (hal. 375)


“Saya sangat berterima kasih atas tawaran Anda. Tapi saat ini kepeutusan kami sudah bulat. Kami ingin pulang ke Indonesia.” Kataku sambil bangkit dari tempat duduk dan mengulurkan tangan untuk pamit. (hal. 390)


“Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian. Dan kebermanfaatan.” (hal. 395)


            Terlihat dari kutipan-kutipan di atas yang mengandung nilai cinta tanah air, para tokoh dibuat untuk kembali ketempat asal atau negaranya. Dari mana kita bermula dan kemana kita bermuara. Mungkin ini kata-kata yang cocok untuk tokoh Alif, istrinya dan teman-teman yang akan pulang ke tanah air. Setelah berkeliling ke separuh dunia, mereka lebih memilih Indonesia sebagai muaranya. Mereka menganggap bahwa Indonesia lebih membutuhkan mereka. Hal ini berarti mereka sangat memiliki rasa cinta tanah air dan ingin mengaplikasikan ilmunya di tanah air tercinta.
            Berdasarkan uraian di atas, novel Rantau 1 Muara mengandung nilai-nilai kehidupan seperti nilai religius, kerja keras dan cinta tanah air. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan-kutipan di atas dan juga tidak terlepas dari latar belakang pengarang. Ketiga nilai kehidupan itu sangat menonjol dalam novel Rantau 1 Muara  yang menyebabkan novel ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan masyarakat dan kenyataan.

Jumat, 25 Maret 2016

Pak Tani dan Sawahnya



TUGAS DRAMA
MENGAMATI SAWAH DAN PAK TANI

Oleh

Nama: Ela Mika Sari
Nim: 1412011056
Kelas: 4B
Tugas: Ke 2

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2016


Kembali kerumah dan bersenda gurau bersama keluarga adalah hal yang sangat diinginkan dan dinantikan oleh semua orang terutama saya yang merantau dan jauh dari orang tua. Merantau untuk mencari ilmu dan digunakan untuk membekali diri nantinya. Rindu akan suasana kampung halaman bersama orang-orang tersayang sudah menjadi hal yang wajar di setiap harinya bagi para perantau. Ingin rasanya setiap libur kuliah dapat pulang dan berkumpul bersama keluarga. Namun, itu semua harus di pendam dalam-dalam karena jarak yang jauh dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit pula.
Minggu ini saya mendapat libur kuliah dari kampus yang cukup lama yaitu selama seminggu. Bali tepatnya Singaraja adalah pilihan saya merantau untuk mencari ilmu dan Bali mendapat julukan pulau dewata dan seribu pura, tetapi menurut saya tidak hanya itu Bali yang mayoritasnya menganut agama Hindu memiliki banyak sekali hari raya. Sehingga saya menyebutnya dengan pulau seribu hari raya. Libur kuliah kali ini dalam rangka menyambut hari Raya Nyepi Tahun baru Caka. Sudah menjadi hal yang biasa bagi saya jika libur kuliah dan tidak pulang kampung. Tetapi, hal itu tidak membuat saya bersedih karena masih ada sanak saudara yang tinggal di Denpasar. Saya menggunakan liburan kali ini dengan menginap di rumah Tante saya.
Tepat pukul 06.00 WITA saya terbangun, diiringi dengan suara ayam yang berkokok seakan-akan menjadi alarm untuk membangunkan orang-orang yang masih terlelap, saya berjalan ke dapur dan membuka pintu belakang untuk menghirup segarnya udara pagi, serta saya dapat melihat beberapa jenis burung yang beterbangan dari sarangnya untuk mencari makan. Dari timur sang surya mulai menyapaku malu-malu dengan sinarnya. Tidak hanya itu saya juga melihat hamparan padi di sawah yang hampir menguning terlihat sangat indah dan damai. Kebiasaan ku di pagi hari setelah bangun, cuci muka dan gosok gigi adalah mencuci piring, menyapu dan membereskan tempat tidur. Hal ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang perempuan.
Tak jarang saya membantu tante saya memasak di dapur. Sesekali kami dikagetkan dengan suara aneh yang berasal dari belakang rumah kami. Memang, tepat di belakang rumah kami ada sawah yang cukup luas milik kakek yang tak ku ketahui namanya. Namun, kakek itu sering di panggil dadong oleh warga sekitar yang mengenalnya.
Dengan kaos lengan pendek dan celana pendek di bawah lutut yang sudah tidak berwarna karena luntur dan tertutup oleh lumpur yang sudah mengering dan mengerak sehingga susah utuk dibersihkan. Namun, mampu melindungi tubuh kakek dari sengatan matahari maupun dinginnya hujan. Tidak lupa juga, beliau selalu ditemani oleh topi lusuhnya. Atribut kakek ini selalu ia kenakan ketika berada di tengah sawah. Kakek petani setiap pagi sebelum matahari menyingsing, beliau sudah berada di tengah sawah.
Suara aneh yang tadi saya dengar ternyata berasal dari suara kakek petani yang sedang mengusir burung-burung kecil yang berada di sawah mereka. Suara khas dari kakek ini untuk mengusir burung-burung terdengar sangat aneh di telingaku tetapi kadang saya juga tertawa mendengarnya karena sangat khas dan saya tidak bisa menirukannya. Dengan sekuat tenaga kakek ini mengerahkan tenaganya dan mengeluarkan suaranya untuk mengusir burung-burung tersebut.
Tidak hanya dengan menggunakan suaranya yang khas kakek tersebut menggunakan bantuan dari orang-orangan sawah. Diusirnya burung-burung itu yang sedang asyik menikmati biji padi yang hampir menguning dengan orang-orangan sawah yang dia gerak-gerakan. Sayangnya usaha itu tak memberikan hasil yang memuaskan, karena setiap kali kakek  melakukan hal itu untuk mengusir burung-burung itu, hanya sebagian burung saja yang pergi melarikan diri dan meninggalkan ladangnya sedangkan yang lain masih asyik menyantap lezatnya biji-biji padi milik kakek petani  itu.
Berulang-ulang kakek itu menggerak-gerakan orang-orangan sawah untuk mengusir burung-burung yang terus hinggap di antara batang padi miliknya. Semakin lama, kakek itu pun kelelahan dan merasa kewalahan menghadapi serbuan burung yang kian mengganas. Kakek itu pun beristirahat sebentar di bawah pohon yang cukup rindang memandangi ladang penuh burung yang sedang berpesta pora.
Kakek itu tidak bisa berlama-lama duduk diam begitu saja, ia langsung berdiri mengusir barung-burung nakal itu lagi sambil sesekali ia memandangi hamparan sawahnya yang cukup luas. Di antara petak-petak sawah itu matanya terhenti pada rumput-rumput liar yang berada di sekitar padi. Rumput itu terlihat subur bahkan lebih subur dan hampir menutupi padi tersebut.
Hari semakin siang, matahari semakin terik. Tanpa menunggu lama kakek itu pun langsung turun ke sawah dan mencabut rumput-rumput liar yang yang mengganggu tanaman padinya. Dengan sangat sabar kakek itu membersihkannya petak demi petak, sementara panas matahari kian menyengat. Keringat kakek bercucuran, sesekali ia mengusap wajahnya dengan lengan bajunya. Ia tak peduli dengan panas yang membakar kulitnya.
Mataharipun semakin naik dan seakan-akan berada di atas ubun-ubun. Ia terhenti sejenak, kemudian melangkah ke tepi, kakek itu pun beristirahat di sebuah gubuk kecil untuk melepas lelahnya. Ia kipas-kipaskan tudung di kepalanya ke wajahnya yang terlihat kelelahan, hembusan angin sepoi-sepoi terasa menyegarkan tubuhnya yang memerah dan basah oleh keringat. Tidak lama kemudian terdengar suara aneh namun khas untuk mengusir burung-burung nakal tadi. Rupanya ia adalah istri kakek yang membawakan sekotak makanan dan sebotol kopi untuk suaminya (kakek). Ternyata ada yang bisa menirukan suara khas tersebut (pikirku ketika mendengarnya sambil tersenyum).
Ya istri kakek ini memang dengan setia mengantarkan kotak makanan untuk suaminya di sawah. Dengan lahap sang kakek menikmati masakan istrinya sambil memandangi sawahnya yang kian menguning. Betapa nikmatnya makan di tengah sawah yang mulai menguning dengan angin yang sepoi-sepoi, diiringi kicauan burung-burung. Sungguh alami pemandangan di depan sana, hamparan padi di bawah birunya langit. Ketika sang kakek beristirahat dan menikmati makananya, neneklah yang bergantian mengusir burung-burung penggangu yang terus memakan padi yang hampir siap panen. Dengan suara khas dan menggoyang-goyangkan orang-orangan sawah.
Selain merasa aneh dengan suara khas untuk mengusir burung-burung itu, ada lagi yang membuat saya merasa aneh yaitu orang-orangan sawahnya. Orang-orangan sawah di sawah kakek ini hanya berupa kayu yang cukup panjang yang diatasnya diberi kaleng atau kayu yang diikat dengan kain kemudian diberi tali panjang dan ditarik dari arah gubuk agar memudahkan kakek itu mengusir burung-burung nakal. Orang-orangan sawah ini biasanya berada di pojok-pojok atau ujung-ujung sawah.
Setelah merasa cukup untuk istirahat, kakek pun bergegas melanjutkan pekerjaannya yang masih panjang, membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di antara tanaman padinya. Setelah beberapa lama, tiba-tiba langit berubah warna, biru dan cerah yang sejak pagi menghiasi angkasa tiba-tiba menjadi mendung yang menyelimuti, beberapa kali terdengar petir mulai menyambar. Tanpa menunggu lama hujan pun turun dari langit dengan derasnya membasahi seluruh tanaman yang tumbuh di persawahan itu. Sejenak kakek menghentikan pekerjaannya, tertegun memandang sekeliling, sepi tak ada seorangpun yang masih berada di persawahan sekitarnya, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya lagi.
Hujan kian deras, petir yang menderu mulai menyambar dan menampakkan kegagahannya. Kakek pun tiada beranjak dari kegiatannya walau badan basah kuyup dengan sabar dan ditemani cangkul kecilnya ia terus menyusuri petak-petak sawah mengelilingi padinya dan mencabut rerumputan liar yang berada disekitar padi. Panas yang tadi serasa membakar kulit kini barganti menjadi dingin yang menusuk hingga menembus tulang.
Sementara sang nenek hanya menunggu sang kakek di bawah gubuk yang mampu melindunginya dari rerintikan hujan. Sesekali ia juga ikut turun ke sawah untuk membantu sang kakek tetapi, selalu tidak diperbolehkan oleh kakek. Kakek lebih suka jika nenek tetap menunggunya di gubuk. Sementara langit yang sejak tadi masih menghitam belum ada tanda-tanda untuk berhenti menurunkan air. Sambil membersihkan rumput liar kakek juga membuat jalan air atau aliran air agar lancar atau tidak tersumbat dan tidak menggenang telalu lama di tengah-tengah sawahnya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, entah karena langitnya yang gelap atau memang waktu sudah menunjukkan untuk waktunya pulang. Keringat yang tadi bercucuran membasahi seluruh tubuh kakek karena teriknya matahari kini digantikan oleh air hujan yang mampu mengerutkan kulit kakek karena kedinginan. Terlihat jelas kelelahan kakek yang tergores di wajah keriputnya. Namun, ia akan selalu setia menemani padi-padinya hingga benar-benar menjadi bulir-bulir yang menguning dan mengeras.
Sang kakek kemudian bergegas kembali ke gubuk, sebelum kembali ke rumah. Nenek mengikutinya dengan membereskan kotak makanan yang dibawanya tadi. Sementara kakek masih membersihkan tubuhnya dari lumpur yang menempel, di sumur dekat gubuknya. Sebelum berjalan pulang kakek menyempatkan untuk melirik lagi padi-padinya dan pohon-pohon yang berada di sekitar. Daun-daun yang tadi pagi menari-nari indah karena ditiup angin sepoi-sepoi kini tertunduk menahan air, menelungkup seakan-akan merasakan dinginnya air hujan.
Tiba-tiba mata sang kakek tertuju pada pohon pisang, dengan mata tuanya ia masih dapat melihat setandan pisang dari kejauhan. Dihampirinya pohon pisang itu bersama istrinya dan ternyata benar pisang tersebut sudah cukup besar dan sudah bisa dipetik. Dengan bantuan sang istri pisang tersebut dapat di bawa pulang. Memang disekitar tepi sawah kakek terdapat beberapa pohon pisang yang sengaja ia tanam.
Tubuh yang lelah seharian di sawah dengan sengatan terik matahari dan guyuran air hujan yang sudah menjadi sahabat sehari-harinya kakek petani dan tidak pernah mematahkan semangat kakek untuk bekerja merawat padi-padinya. Terlihat jelas dari wajah kakek yang sangat berharap padi-padinya menguning dengan sempurna dan mendapatkan hasil yang memuaskan agar kakek dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.
Demikianlah perjuangan kakek yang tak kenal lelah, tak peduli panas dan hujan, demi tanaman padinya ia yakin dengan pasti kelak akan ia panen. Ia yakin suatu hari nanti akan menikmati hasil jerih payahnya hari ini. Maka, ia pantang menyerah menghadapi segala tantangan dan hambatan yang menghadang. Ia bulatkan tekad untuk mempersembahkan yang terbaik.
Seharusnya, demikian juga kita dalam mengarungi kehidupan, kita harus punya tujuan yang jelas dan pasti yang akan kita capai esok lusa, dan kita bulatkan tekad dan segala daya upaya untuk mencapainya. Jangan mimpi semuanya akan berjalan lancar tanpa rintangan. Menanam padi saja pasti rumput akan ikut tumbuh, demikian juga impian yang kita tanam, pasti juga akan ditumbuhi semak dan ilalang. Kalau semak dan ilalang tidak kita bersihkan, bisa jadi impian kita akan layu dan mati.